Selasa, 03 Maret 2009

TAWURAN

TAWURAN

Aksi tawuran pelajar kembali terjadi di Makassar. Kali ini melibatkan siswa dari beberapa sekolah yang cukup favorit. Peristiwa tawuran yang terjadi akhir November 2006 lalu itu akhirnya merenggut nyawa 2 (dua) siswa SMA secara sia-sia. Tak urung, Bapak Walikota Makassar pun harus marah dan mengancam untuk memecat para siswa yang terlibat dalam tawuran tersebut.

Masalah tawuran pelajar memang telah menjadi sebuah fenomena sosio-kultural yang terkait dengan aspek kehidupan lainnya. Problem ini tidak lagi bisa diselesaikan hanya oleh para guru, para pelajar itu sendiri maupun polisi. Harus ada solusi yang holistik dan langsung menyentuh kepada akar persoalan yang paling mendasar.

Sebab Terjadinya Tawuran

Tawuran pelajar merupakan salah satu bentuk perilaku penyimpangan sosial kolektif remaja yang marak terjadi di daerah perkotaan. Penyebab tawuran kadang tidak jelas. Disinilah uniknya, sampai – sampai kelompok kerja ( pokja ) penanggulangan masalah tawuran ( 1999 ) tidak mampu memberi jawaban yang jelas mengenai apa penyebab tawuran. Mungkin dianggap telah menjadi tradisi. Kadang juga hanya sekedar untuk balas dendam atau pun unjuk kekuatan saja. Tak jarang pula melibatkan penggunaan senjata tajam atau bahkan senjata api ( bom molotov ) dan menimbulkan banyak korban berjatuhan. Aksi – aksi yang dilakukan para pelajar dalam tawuran semakin beringas saja. Selain itu, tawuran juga melahirkan dendam berkepanjangan bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya dan sering berlanjut pada tahun – tahun berikutnya. Kiranya, tidaklah keliru bila kita berasumsi bahwa maraknya aksi tawuran pelajar merupakan sebuah gejala yang tak terpisahkan dari gejala krisis moral yang tengah melanda remaja kita secara umum.

Mengapa Kelompok Remaja Rentan dengan Tawuran ?

Masa remaja yang identik dengan pelajar adalah suatu masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dimana remaja merasa bukan kanak – kanak lagi, tetapi mereka belum mampu mengemban tugas sebagai orang dewasa. Karena itu, remaja berada di antara suasana ketergantungan ( dependency ) dan ketidaktergantungan ( interdependency ) sehingga tingkah lakunya cenderung labil serta tidak mampu menyesuaikan diri secara sempurna terhadap lingkungannya.

Masa ini dikenal sebagai masa manusia mencari jati diri. Pencarian tersebut direfleksikan melalui aktivitas berkelompok dan menonjolkan keegoannya. Yang dinamakan kelompok tidak hanya lima atau sepuluh orang saja. Satu sekolah pun bisa dinamakan kelompok. Kalau kelompok sudah terbentuk, akan timbul adanya semacam ikatan batin antara sesama kelompoknya untuk menjaga harga diri kelomponya. Maka tidak heran, apabila kelompoknya diremehkan, emosianal-lah yang akan mudah berbicara.

Pada fase ini, remaja termasuk kelompok yang rentan melakukan berbagai perilaku negatif secara kolektif ( group deviation ). Mereka patuh pada norma kelompoknya yang sangat kuat dan biasanya bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Penyimpangan yang dilakukan kelompok, umumnya sebagai akibat pengaruh pergaulan atau teman. Kesatuan dan persatuan kelompok dapat memaksa seseorang untuk ikut dalam kejahatan kelompok, supaya jangan disingkirkan dari kelompoknya. Disinilah letak bahayanya bagi perkembangan remaja yakni apabila nilai yang dikembangkan dalam kelompok sebaya adalah nilai yang negatif.

Dampak Tawuran Pelajar

Pelajar merupakan aset yang sangat penting dalam kelanjutan kehidupan suatu suatu bangsa di masa akan datang. Fenomena maraknya tawuran pelajar tentunya sangat memprihatinkan kita. Betapa tidak, generasi yang menjadi tumpuan harapan untuk membawa bangsa kepada masa depan yang lebih baik, justru jauh dari harapan tersebut. Apabila permasalahan ini tidak tertanggulangi dengan baik maka dapat dipastikan akan membawa dampak buruk bagi masa depan bangsa nantinya. Para pakar sosial pun menyebutkan beberapa tanda dari perilaku yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa antara lain meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, pengaruh kelompok sebaya terhadap tindak kekerasan dan semakin kaburnya pedoman moral. Tentu saja hal ini harus membuat kita prihatin dan berupaya mencari solusi yang efektif.

Upaya Mengantisipasi Tawuran

Upaya antisipatif terhadap tawuran pelajar mutlak dilakukan. Upaya antisipasi adalah usaha – usaha sadar berupa sikap, perilaku atau tindakan seseorang melalui langkah – langkah tertentu untuk menghadapi peristiwa yang mungkin terjadi. Jadi, sebelum tawuran terjadi atau akan terjadi seseorang telah siap dengan berbagai “perisai” untuk menghadapinya. Solusi antisipatif sangat penting untuk dilakukan dibandingkan hanya sekedar melakukan solusi – solusi yang sifatnya reaktif.

Secara umum, menurut Arief Herdiyanto, upaya mengantisipasi penyimpangan sosial, termasuk tawuran pelajar, dapat dilakukan melalui tiga langkah sebagai berikut. Pertama; Penanaman nilai dan norma yang kuat pada setiap individu. Apabila hal ini berhasil dilakukan pada seseorang individu secara ideal, niscaya tindak penyimpangan tidak akan dilakukan oleh individu tersebut.

Kedua; Pelaksanaan peraturan yang konsisten. Pada hakikatnya segala bentuk peraturan yang dikeluarkan adalah usaha mencegah adanya tindak penyimpangan. Namun, apabila peraturan – peraturan yang dikeluarkan tidak konsisten justru akan menimbulkan tindak penyimpangan.

Ketiga; Menciptakan kepribadian yang kuat dan teguh. Menurut Theodore M. Newcomb, kepribadian adalah kebiasaan, sikap-sikap dan lain-lain, sifat yang khas yang dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain. Seseorang disebut berkepribadian apabila seseorang tersebut siap memberi jawaban positif dan tanggapan positif atas suatu keadaan. Apabila seseorang berkepribadian teguh ia akan mempunyai sikap yang melatarbelakangi tindakannya. Dengan demikian ia akan mempunyai pola pikir, pola perilaku dan pola interaksi yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakatnya.

Idealnya ketiga langkah antisipatif tersebut di atas mestinya teraplikasikan pada seluruh lingkungan kehidupan dan pranata sosial. Paling tidak, teraplikasikan pada tiga institusi utama, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Tetapi, kadang disinilah letak persoalannya, yaitu manakala lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat cenderung tidak optimal dalam proses pembinaan kepribadian remaja kita.

Di sisi lain , walaupun sebenarnya telah begitu banyak upaya yang dilakukan oleh berbagai kalangan, baik dari kalangan pendidikan, kalangan pelajar, organisasi masyarakat, maupun LSM untuk menanggulangi masalah tawuran ini secara formal. Namun, upaya – upaya tersebut nampaknya belum membawa hasil yang besar, baik dilihat dari perubahan frekuensi tawuran maupun dari akar masalahnya secara umum, yakni menyelesaikan krisis moral yang tengah melanda para remaja. Boleh jadi karena mereka belum menemukan metode pembinaan yang tepat dan sesuai dengan kondisi kepribadian remaja. Oleh karena itu, diperlukan sebuah metode baru dalam hal pembinaan moral remaja di Indonesia.

Persoalannya sekarang, siapakah yang harus memikul amanah tanggung jawab pembinaan kepribadian remaja tersebut. Bisakah diserahkan sepenuhnya kepada lingkungan rumah atau pihak sekolah saja. Mungkin saja bisa, akan tetapi melihat kondisi umum remaja saat ini, nampaknya kita tidak dapat menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab tersebut hanya pada pihak – pihak tertentu saja. Tentunya kita tidak dapat menyalahkan siapa – siapa. Setiap kita haruslah punya kepedulian dan mampu memberi kontribusi, sekecil apa pun itu, sesuai dengan kewenangan dan kesanggupan masing – masing.

Mentoring Agama Islam sebagai Solusi

Mentoring agama Islam atau juga dikenal juga dengan Dakwah Sistem Langsung adalah merupakan sebuah metode pembinaan keislaman pada remaja dengan pendekatan teman sebaya dalam bentuk kelompok yang terdiri dari sepuluh sampai lima belas orang siswa. Kegiatan mentoring agama Islam sangat cocok diterapkan pada kalangan remaja. Penelitian Malik (2002) mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang melatarbelakangi terjadinya tawuran pelajar adalah krisis moral yang tengah melanda remaja. Padahal moral aadalah modal yang paling penting sebagai tameng bagi seseorang untuk menjalani kehidupannya. Sehingga, pencegahan tawuran dapat dilakukan secara efektif dengan memberikan pendidikan moral kepada pelajar melalui pembinaan agama melalui metode yang tepat.

Mengapa kita mengarahkan solusi kepada perbaikan moral ? karena hanya dengan moral yang baik, seseorang tetap akan berperilaku baik secara konsisten, meskipun tanpa kehadiran pengawas, guru atau orang lain di sekitarnya. Maka dengan pendidikan moral secara intensif merupakan suatu upaya yang efektif untuk mendidik para pelajar secara sadar dan konsisten mau menghindari tawuran.

Hal lain mengapa mentoring cocok diterapakan di kalangan pelajar adalah pada aspek pendekatan yang digunakan sangat memperhatikan karakter remaja, yakni dengan pola teman sebaya dalam pembinaannya. Hubungan mentor dengan peserta mentoring layaknya teman sebaya ( friendly ) membuat mentor dapat berhubungan dengan intensif dan melakukan cara – cara informal untuk mengatasi tindakan meyimpang dari peserta mentoring. Selanjutnya apabila telah terbentuk ikatan emosional yang kuat antara mentor-peserta mentoring dan sesama peserta mentoring maka akan terbentuk kelompok sebaya bernuansa religius yang kokoh. Dengan memahami kecendrungan remaja untuk lebih dekat dengan kelompok sebaya dibandingkan dengan lingkungan sosial lainnya, maka perbaikan moral dan pembentukan perilaku remaja dapat dilakukan secara efektif melalui kelompok mentoring yang religius ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar